Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

DiterjangLongsor,17RumahRusak

Hujan deras yang mengguyur kawasan Ponorogo sejak Kamis (13/12) pukul 11.00–05.00 WIB kemarin mengakibatkan tanah longsor. Akibatnya, sekitar 17 rumah di Desa Mrayan,Kec Ngrayun,tertimbun tanah lima di antaranya rata dengan tanah.

Akibat bencana tersebut 17 kepala keluarga harus mengungsi ke rumah tetangganya. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu,namun warga tidak bisa tenang. Mereka harus bersiaga ketika hujan deras mengguyur kawasan Desa Mrayan. Misni,35,warga RT 02/02 Dusun Tempuran, Desa Mrayan, adalah satu korban yang rumahnya roboh tertimbun longsoran yang berasal dari perbukitan yang berada di kawasan tersebut.Menurutnya, bencana terjadi tengah hari saat hujan turun sangat lebat.“Waktunya siang hari sehingga kami bisa melakukan penyelamatan diri setelah mengungsi ke rumah tetangga,”ujarnya. Longsor juga menimbun ratusan hektare lahan sawah petani.

Parahnya, petani di Desa Mrayan baru saja melakukan pembenihan untuk menyambut musim tanam bulan ini.Hingga saat ini belum ada data pasti mengenai berapa jumlah kerugian yang dialami petani, namun kerugian akibat longsor diperki-rakan ratusan juta. ”Untuk bisa menanami kembali dibutuhkan waktu yang sangat lama. Kami harus mengeruk dulu tanah yang menimbun lahan sawahnya, setelah itu melakukan pembaruan tanah kembali,” ujar Yadi, 56, petani Desa Mrayan yang sawahnya terkena longsoran bukit. Sementara itu,bencana longsor ini juga sempat memutuskan jalur 1 kilometer Mrayan–Kab Pacitan. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 8 titik longsor.

Bahkan salah satu titik longsoran yang menimbun jalan Desa Tempuran hingga ke-marin,belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Meski sudah dibersihkan, namun kondisi jalan masih dipenuhi batu dan jalannya menurun terlalu curam sehingga membahayakan kendaraan.Apalagi, lumpur juga masih memenuhi badan jalan. Camat Ngrayun Miskun Marikastilo mengatakan,tanah longsor yang mengakibatkan korban banyak hanya terjadi pada tahun ini saja. Sebelumnya juga ada bencana yang sama,namun jumlah korban rumah tidak sampai sebanyak ini.

“ Ini akibat hujan deras yang sangat lama,”tukasnya. Sekadar diketahui, Desa Mrayan memiliki 4 dusun, yakni Krajan, Tempuran,Pakel,dan Plandon. Semua dusun tersebut menjadi korban longsor. Namun, kondisi Desa Tempuran terbilang paling parah karena sebanyak 8 rumah di dusun tersebut menjadi korban.Diperkirakan kerugian total ru-mah akibat bencana ini sebesar Rp229.000.000.

Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat (Kabid Linmas) Kesbanglintibmas Ponorogo Nuryanto mengingatkan bahwa ancaman longsor masih bisa terjadi. Sebab, menurut perkiraan Badan Me-teorologi dan Geofisika, Ponorogo akan mengalami curah hujan yang sangat tinggi sekitar Januari dan Februari.Tiap kali ada hujan deras yang mengguyur Ponorogo, dipastikan terjadi bencana longsor,” ujarnya.

0 komentar:

Poskan Komentar