Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

Status Kelud Masih AWAS

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung tetap mempertahankan status awas.Keputusan itu diambil karena aktivitas vulkanik Gunung Kelud beberapa hari terakhir terus meningkat.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Hendrasto menegaskan, pihaknya tidak ingin mengambil risiko terjadinya korban jiwa dengan menurunkan status Gunung Kelud menjadi siaga. Apalagi, berdasarkan pantauan petugas,aktivitas vulkanik kembali mengalami peningkatan pada tanggal (24/10) atau setelah wacana penurunan status disampaikan tim kepada Presiden SBY.

”Tujuan mitigasi kami adalah melindungi penduduk dan menghindari korban jiwa.Dengan kondisi seperti ini, kami memutuskan untuk tetap memberlakukan status awas dengan semua konsekuensinya,” jelas Hendrasto atau yang akrab disapa Totok, dalam keterangan persnya di Balai Desa Sugihwaras, Kec Ngancar,Kab Kediri,kemarin petang.

Dibeberkan, dari seluruh parameter yang dipergunakan tim untuk mempelajari Gunung Kelud, tidak satu pun yang menunjukkan adanya penurunan aktivitas. Bahkan, kecenderungan terjadinya letusan justru semakin besar. Hal ini disebabkan posisi magma yang menurut tim semakin dekat dengan permukaan dibandingkan sebelum masa krisis (16/10) lalu.

Dengan demikian, tidak diperlukan energi atau tekanan yang cukup besar dari bawah untuk mendorong magma ke atas dan menimbulkan letusan. Menurut catatan tim vulkanologi, gempa yang terjadi pada saat kenaikan status aktif normal menjadi waspada (11/9) lalu telah mendorong magma berada di kedalaman 3 kilometer dari air kawah. Magma tersebut terus merambat naik menjadi 3 kilometer dari kawah memasuki tanggal 26–29 September.

Saat itu tercatat sedikitnya 16 kali gempa vulkanik yang berhasil terekam alat pemantau petugas. Puncak aktivitas Kelud terjadi pada tanggal 16 Oktober,yang mencatat sedikitnya 510 kali gempa vulkanik dalam sehari. Jumlah tersebut melebihi kondisi letusan tahun 1990 lalu dan mendorong magma ke atas hingga kedalaman 700 meter dari air kawah.Setelah itu,secara perlahan-lahan aktivitas Kelud menunjukkan penurunan, terutama dari segi kegempaan dan pengukuran deformasi.

”Saat itulah wacana penurunan status itu muncul mengingat kondisinya mulai stabil. Bahkan gempa- gempa vulkanik nyaris tidak terekam lagi,”jelas Totok.Tim sempat menyangka masa kritis Kelud telah lewat pada tanggal (16/10) lalu dan tidak disertai letusan. Namun,dugaan itu ternyata keliru. Aktivitas Gunung Kelud kembali mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah sempat memasuki fase diam.

Hal ini ditandai dengan munculnya lagi gempa-gempa vulkanik dalam yang menunjukkan adanya migrasi atau pergerakan magma di dalam perut gunung api. Selain itu, suhu air kawah terutama di kedalaman 15 meter juga terus merangkak naik. Demikian pula dengan perubahan warna permukaan air kawah yang mulai didominasi warna kuning.

Hal ini menunjukkan masih tingginya tingkat sublimasi belerang di dasar kawah hingga merusak ekosistem ganggang (warna hijau) yang hidup di air kawah. Namun untuk memastikan kandungan kimia air kawah,tim masih menunggu hasil penelitian di laboratorium Bandung.

”Dari pengukuran PH air kawah, diketahui terjadi peningkatan dari 5,64 menjadi 5,78 dan terdiri atas beberapa unsur seperti SO4,CL,dan MgCl,yang mengindikasikan aktivitas magmatik. Kondisi ini sudah melebihi pada 1990 lalu,” tambah Totok. Melihat kondisi ini,tim bersama satlak berusaha menentukan status aktivitas Kelud, dengan tetap mengutamakan keselamatan warga.

Ada tiga skenario, menurut Totok, yang sempat dimunculkan oleh tim dan menjadi perdebatan panjang. Skenario pertama adalah menurunkan status awas menjadi siaga. Dengan status ini, warga bisa kembali pulang ke rumahnya dan meninggalkan pengungsian. Tim baru akan menaikkan status menjadi awas jika telah terjadi erupsi (tanda-tanda letusan).

Dengan tenggang waktu yang hanya sekitar tiga jam dengan terjadinya letusan, diperkirakan akan timbul korban jiwa akibat kepanikan warga yang sibuk menyelamatkan diri. Skenario kedua hampir sama dengan pertama, yakni tetap menurunkan status menjadi siaga.

Namun yang menjadi catatan di sini adalah ketika fase erupsi telah terjadi dan tim kembali menaikkan status menjadi awas, ternyata tidak diikuti oleh letusan. Mengacu pada masa krisis (16/10) lalu yang juga tidak terjadi letusan,kemungkinan itu akan selalu ada. Jika hal ini terjadi lagi, kepercayaan masyarakat terhadap pemantauan tim vulkanologi akan hilang.

Ini akan berdampak buruk bagi masyarakat yang dipastikan enggan mengikuti petunjuk satlak dan mengabaikan peringatan tim vulkanologi. Satu-satunya pilihan tim dan satlak dalam situasi ini adalah tetap menetapkan status awas, yang menjadi skenario ketiga. Dengan tetap mempertahankan status awas,diharapkan tidak akan terjadi korban jiwa mengingat seluruh warga tetap berada di tempat pengungsian.

”Meski masyarakat akan jenuh, namun ini pilihan terbaik yang bisa kami rekomendasikan saat ini,” tegas Totok. Sementara itu, Ketua Tanggap Darurat Aktivitas Kelud (TDAK) Kristianto menjelaskan, hingga siang kemarin suhu air kawah di kedalaman 15 meter telah mencapai 39,5 derajat Celsius.

Tercatat 3 gempa vulkanik dalam, 7 gempa vulkanik dangkal,1 gempa tremor, dan 3 gempa tektonik jauh hingga pukul 12.00 WIB. Menurutnya, penurunan status hanya akan dilakukan bila terjadi penurunan temperatur di bawah 0,08 derajat Celsius/hari. Selain itu, pengukuran laju inflasi pada kedua komponen tiltmeter juga menunjukkan penurunan, di samping tidak terjadinya gempa vulkanik dalam maupun dangkal.

Warga Teken Kontrak Keselamatan

Sementara itu, menyikapi banyaknya warga di lereng Gunung Kelud yang memilih meninggalkan lokasi pengungsian, pemerintah desa dan kecamatan setempat menyebar formulir pernyataan kepada warga. Mereka diminta memilih apakah bersedia diungsikan atau tidak.

”Jika tidak bersedia mengungsi, warga harus menanggung sendiri risiko keselamatannya jika terjadi letusan.Tidak boleh menuntut pemerintah desa dan kecamatan jika terjadi apaapa,” tegas Kepala Desa Sugihwaras, Kec Ngancar, Susiadi. Susiadi mengaku telah menyebarkan 250 formulir yang harus ditandatangani oleh masing-masing kepala keluarga.

Saat ini terdapat 790 KK atau 3.259 jiwa yang tersebar di tiga dusun, yakni Dusun Margomulyo, Mulyorejo, dan Sugihwaras. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 800 jiwa yang bersedia diungsikan.Sementara sisanya memilih bertahan di rumah masing- masing hingga Gunung Kelud benar-benar meletus.

”Kami sudah menandatangani surat pernyataan itu dan memilih tinggal di rumah. Kalau meletus kan masih ada waktu untuk menyelamatkan diri dengan motor,” ujar Alwin, salah seorang warga Desa Sugihwaras.

Incident Comander Bencana Gunung Kelud Letkol Inf Endy Servandi yang bertanggung jawab pada evakuasi warga mengaku sudah mengetahui adanya pernyataan sikap yang digagas kepala desa dan camat. Ia mengaku akan mengikuti kesepakatan tersebut dan tetap mengungsikan warga yang bersedia diselamatkan.

Sumber :Hari Tri Wasono
Diposting: Oleh Asep. Moh. Muhsin, Tagana Cianjur, Sedang berada di lokasi pengungsian Posko Siman

0 komentar:

Poskan Komentar