Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

Mengenal BVMBG

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi adalah salah satu unit di lingkungan Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.

Organisasi ini terbentuk setelah beberapa kali berganti nama yang berawal setelah meletusnya Gunung Kelut di Jawa Timur tahun 1919 yang menimbulkan korban manusia lebih dari 5000 orang. Pada tanggal 16 September 1920 dibentuk Vulkaan Bewakings Dients (Dinas Penjagaan Gunungapi) di bawah naungan Dients Van Het Mijnwezen dan pada tahun 1922 diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek (VO), yang tahun 1939 di dunia international dikenal sebagai Volcanological Survey. Sejak tahun 1920 - 1941, Volcanologische Onderzoek ini telah membangun beberapa pos penjagaan gunungapi, yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau Panjang, Pos Gunung Tangkubanparahu, Pos Gunung Papandayan, Pos Kawah Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan, Krinjing, Plawangan, Ngepos), Pos Gunung Kelut, Pos Gunung Semeru dan Pos Kawah Ijen. Pada saat pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi ditangani oleh Kazan Chosabu selama periode 1942-1945.


Setelah Indonesia merdeka dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan, kemudian 1966 dirubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi dan selanjutnya pada tahun 1976 berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 734 Tahun 1978 terbentuklah Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi. Perkembangan organisasi Departemen Pertambangan dan Energi berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1092 Tahun 1984 dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1748 Tahun 1992 terbentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral.

Sejak tahun 2001 sampai saat ini, berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor 1915 Tahun 2001, urusan gunungapi, gerakan tanah, gempabumi, tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Tugas utamanya adalah melaksanakan perumusan kebijaksanaan, standardisasi, bimbingan teknis dan evaluasi bidang vulkanologi dan mitigasi bencana alam geologi. Tujuan dibentuknya Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi adalah secara umum mencakup pengelolaan informasi potensi kegunungapian dan pengelolaan mitigasi bencana alam geologi, sedangkan missi yang diemban adalah meminimalkan korban jiwa manusia dan kerugian harta benda dari bencana geologi.

Setelah bergabung dengan Badan Geologi, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berubah nama institusinya menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Centre of Volcanology and Geological Hazard Mitigation. Di dunia Internasional kantor kami ini lebih dikenal dengan sebutan Volcanological Survey of Indonesia (VSI)

BENCANA GEOLOGI

Bencana Geologi adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh proses-proses geologi, seperti kegiatan gunungapi, gempabumi, gerakan tanah, tsunami, erosi, sedimentasi dan lainnya yang mengakibatkan jatuh korban, penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan saran-prasarana dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan kehidupan masyarakat.

GEMPABUMI TEKTONIK

Gempabumi tektonik merupakan getaran kulit bumi yang disebabkan oleh proses pelepasan energi. Energi yang dilepaskan berasal dari kegiatan patahan atau pergerakan kulit atau disebut kegiatan tektonik. Jalur gempabumi tektonik ini terbentang mulai dari wilayah daratan pantai barat Aceh hingga Jawa, Bali, Nusatenggara, membelok ke Maluku, Sulawesi dan Irian Jaya. Pengelompokan jenis gempabumi tektonik berdasarkan kedalaman pusat gempanya, sebagai berikut : (1) Gempa dangkal (0-90 km), (2) Gempa menengah (90-150 km) dan (3) Gempa dalam (>150 km). Apabila terjadi gempabumi maka Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) akan mencatat lokasi, kedalaman dan besaran gempabumi, sedangkan gempa susulan dan dampak akibat gempa tersebut ditangani oleh DVMBG dengan memasang seismograf portable di daerah gempabumi.

GERAKAN TANAH

Gerakan tanah adalah perpindahan masa tanah atau batuan yang bergerak dari atas ke bawah disepanjang lereng atau keluar dari lereng. Jenis gerakan tanah dapat dikelompokkan kedalam 5 jenis yaitu :

1. Jatuhan massa tanah dan atau batuan adalah perpindahan masa tanah dan atau batuan ke ketinggian yang lebih rendah tanpa melalui bidang gelincir karena pengaruh gaya tarik bumi.

2. Longsoran masa tanah atau batuan adalah perpindahan masa tanah dan atau batuan melalui bidang gelincir yang pergerakannya dipengaruhi gaya tarik bumi

3. Aliran tanah adalah perpindahan campuran masa tanah dengan air yang bergerak mengalir sesuai dengan arah kemiringan lereng

4. Amblesan adalah penurunan permukaan tanah secara tegak karena adanya pengosongan rongga di dalam tanah akibat dari pemadatan normal tanah dan atau batuan, pengambilan airtanah secara berlebihan. Larian air karena struktur geologi, kebocoran atau retak bagian dasar, penggalian tanah atau batuan, dan bahan galian logam.

5. Tanah mengembang adalah perubahan atau pergerakan masa tanah sebagai akibat sifat-sifat tanah atau batuan itu sendiri yang mengembang apabila jenuh air dan mengkerut apabila kering.

TSUNAMI

Tsunami adalah gelombang air laut yang dibangkitkan oleh perubahan permukaan dasar laut akibat sesar, letusan gunungapi bawah laut, dan longsoran bawah laut, selanjutnya yang dimaksud dengan tsunami adalah yang diakibatkan aktivitas sesar di dasar laut.

EROSI

Erosi adalah proses pengikisan tanah atau batuan oleh air dan atau angin maupun oleh gerakan gaya berat masa.

SEDIMENTASI

Sedimentasi adalah penumpukan suatu material atau sedimen oleh media air yang mengakibatkan berkurangnya jarak antara permukaan air dengan permukaan sedimen itu sendiri.

Dan bencana geologi lainnya, seperti abrasi, intrusi air laut, pelarutan fisik atau kimia tanah/batuan serta kebakaran batubara.



METODE PEMANTAUAN
SEISMIK

Metode seismic merupakan salah satu metode yang banyak dipakai dalam teknik geofisika. Hal ini disebabkan metode seismic mempunyai ketepatan serta resolusi yang tinggi dalam memodelkan struktur geologi bawah permukaan bumi. Ada dua jenis seismic yaitu; seismic refraksi (bias) dan seismic refleksi (pantul). Seismik refraksi digunakan untuk penentuan struktur geologi yang dangkal, sedangkan seismic refleksi untuk penentuan struktur geologi yang dalam. Dalam hal ini digunakan untuk pemnatauan kegiatan gunungapi, gempabumi, gerakan tanah. Peralatan yang digunakan adalah Seistronix RAS-24 buatan USA..

DEFORMASI

Deformasi yaitu perubahan rupa bumi akibat kegiatan gunungapi, gerakan tanah atau gerakan tektonik yang dapat dipantau dengan peralatan elektronik atau manual. Peralatan elektronik berupa tiltmeter, EDM (Electronic Distance Measurement), GPS (Global Positioning System), sedangkan peralatan manual menggunakan theodolit dan water tube untuk pemantauan gunungapi dan gerakan tanah.

GEOKIMIA

Penyelidikan geokimia dilakukan di gunungapi aktif dengan mempelajari komposisi kimia batuan, air dan gas kegiatan gunungapi. Penyelidikan ini dapat menolong dalam rangka evaluasi kegiatan gunungapi, terutama pengukuran gas SO2 yang dikeluarkan dari kawah. Pengukuran SO2 dapat dilakukan langsung dari jarak jauh dengan alat COSPEC (Correlation Spectrophotometer), sedangkan yang lainnya dilakukan dengan mengambil contoh di lapangan termasuk pengukuran suhu. Hasil penyelidikan geokimia akan menunjukkan gejala awal letusan gunungapi apabila ada penurunan H2O dan peningkatan konsentrasi CO2, SO2, H2S, HCl dan N2.

GAYA BERAT

Merupakan metoda geofisika yang didasarkan pada pengukuran variasi medan gravitasi bumi. Pada metoda ini yang dipelajari adalah variasi medan gravitasi akbiat variasi rapat massa batuan bawah permukaan. Pada prinsipnya metoda ini dipilih karena kemampuannya dalam membedakan rapat massa suatu material terhadap lingkungan sekitarnya. Metoda ini pada umumnya digunakan untuk mendeteksi kegiatan gunungapi. Peralatan yang digunakan adalah Gravitiymeter LaCoste & Romberg type D-117 , USA.

GEOLISTRIK

Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah maupun akibat injeksi arus ke dalam bumi. Metoda ini lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya dangkal seperti; penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, eksplorasi panasbumi dan kegiatan gunungapi. Peralatan yang digunakan adalah Resistivity Meter, merek Naniura buatan Indonesia.

KEMAGNETAN

Metoda ini pada dasarnya mengukur besaran medan magnet bumi yang ditimbulkan oleh berbagai sumber baik yang ada di dalam perut bumi maupun adanya pengaruh luar, seperti radiasi matahari. Susceptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu batuan terhadap pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar harga susceptibilitasnya. Metoda ini sangat cocok untuk pendugaan struktur geologi bawah permukaan dengan tidak mengabaikan faktor kontrol adanya kenampakan geologi di permukaan dan kegiatan gunungapi. Peralatan yang digunakan adalah Magnetometer merek Scintrex type : IGS2 buatan USA..

GEORADAR

Metode Georadar atau GPR (Ground Penetrating Radar) merupakan salah satu metode geofisika untuk penentuan lokasi ataua pemetaan bawah permukaan yang cukup dangkal, yang tidak merusak lingkungan dan memberikan gambaran bawah permukaan yang menerus. Kedalaman penetrasi radar ini tergantung pada konduktivitas listrik, konstanta dielektrik, kandungan air pada pasir atau batuan dan kecepatan gelombang ELektromagnetik bawah permukaan, kegiatan gunungapi, kebakaran batubara dan lain-lain. Peralatan yang digunakan adalah GPR merek RAMAC buatan Swedia.

PENGAMATAN VISUAL DI LAPANGAN
Gunungapi

Pengamatan visual gunungapi dilakukan secara periodik pada semua gunungapi aktif, minimal sekali dalam sebulan dengan sasaran mengamati di sekitar kawah (retakan, longsoran, warna dan tinggi asap, dll), perubahan warna air dan pH di danau kawah serta pengukuran suhu air danau kawah, solfatara dan fumarola. Pada gunungapi aktif berkubah lava, dilakukan pengukuran volume dan pengamatan perubahan bentuk kubah itu sendiri.

Gempabumi dan Tsunami

Pemeriksaan gempabumi di lapangan dilakukan apabila terjadi peningkatan aktivitas kegempaan yang signifikan, mengakibatkan korban jiwa, lebih dari 10 rumah hancur, menimbulkan kerusakan pada prasarana umum dan bangunan penting, menjadi berita regional atau nasional pada media cetak atau elektronik, atau permintaan pemeriksaan oleh Pemerintah Daerah setempat.

Gerakan tanah

Pemeriksaan gerakan tanah di lapangan dilakukan apabila menimbulkan korban jiwa, lebih dari 10 rumah hancur/rusak berat atau lebih dari 15 rumah terancam bahaya, menimbulkankan kerusakan pada prasarana umum dan bangunan penting, mengakibatkan kerusakan jalan negara antar propinsi dan antar kabupaten terputus atau tertimbun material longsoran yang megganggu lalu lintas lebih dari dua hari, dan menjadi berita regional dan nasional pada media cetak dan elektronik, atau ada permintaan pemeriksaan dari Pemerintah Daerah setempat.

PENANGGULANGAN BENCANA GEOLOGI

Penanggulangan bencana geologi dilaksanakan untuk meringankan penderitaan masyarakat, memulihkan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta memulihkan kegeiatan pemerintahan. Kegiatan penanggulangan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu sebelum tejadi bencana, pada saat terjadi bencana dan sesudah terjadi bencana dengan tahapan sebagai berikut :

1. Sebelum terjadi bencana

Preventif, yaitu kegiatan yang bertitik berat pada upaya penyebarluasan tentang berbagai peraturan perundang-undangan yang berdampak untuk meniadakan atau mengurangi resiko bencana, termasuk pembuatan peta rawan bencana.

Mitigasi, yaitu kegiatan yang lebih bertitik berat pada upaya dan usaha secara fisik, seperti pembutan cek dam, rehabilitasi aliran sungai, pengawasan terhadap pelaksanaan RUTR, IMB, pemindahan penduduk ke daerah yang aman bencana, law enforcement terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pemasangan tanda-tanda larangan di daerah yang dinyatakan rawan bencana.

Kesiapsiagaan, yaitu meliputi kegiatan untuk mengadakan pelatihan dan gladi bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, serta pendidikan dan pelatihan bagi aparat pemerintah termasuk penyiagaan pos-pos pengamatan gunungapi, pos pengamatan cuaca, pos pengendalian banjir dan pos-pos siaga lain yang sejenis.

Kegiatan tahap ini sangat penting, karena usaha untuk menghindari bencana akan lebih efektif dan efisien dari pada tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi.

2. Saat terjadi bencana, meliputi tahapan,

Peringatan dini, yaitu merupakan usaha yang amat penting yang tidak dapat diabaikan, agar dapat memberikan kesempatan kepada penduduk untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan terlanda bencana.

Tanggap darurat, yaitu merupakan usaha pengerahan unsur penanggulangan bencana guna mencari, menolong dan menyelamatkan korban bencana, serta memberikan santunan kepada para pengungsi berupa pakaian, selimut, makanan, barak-barak darurat dan kegiatan lain yang sejenis.

Kegiatan tahap ini dilakukan secara terpadu dengan Satkorlak PB (Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana).

3. Sesudah terjadi bencana

Rehabilitasi, yang merupakan usaha untuk memfungsikan kembali dan mengkonsolidasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi, transportasi dan kehidupan masyarakat secara darurat guna mengurangi penderiataan masyarakat yang tertimpa musibah.

Rekonstruksi, yang merupakan usaha untuk membangun kembali berbagai kerusakan yang diakibatkan oleh bencana secara lebih baik dari pada keadaan sebelumnya.

Kegiatan pada tahap ini umumnya rekonstruksi harus direncanakan secara teliti dan seksama, dengan mengikutsertakan berbagai disiplin ilmu dari berbagai instansi pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi secara terpadu dan terintegrasi.

POTENSI SUMBERDAYA GUNUNGAPI

Gunungapi dapat mendatangkan bahaya, namun dapat menghasilkan bahan-bahan mineral industri dan bahan galian untuk pembangunan, di samping itu juga gunungapi menjadi obyek wisata yang menarik banyak pengunjung, baik dari segi wisata kesenangan juga wisata keilmuan.

Potensi wisata utama gunungapi meliputi, wisata bentang alam gunungapi, wisata produk gunungapi, wisata gejala gunungapi, wisata erupsi gunungapi dan wisata mitigasi bencana gunungapi. Selain itu di lingkungan gunungapi terdapat obyek wisata penunjang, antara lain wisata panorama gunungapi, wisata rekreasi olah raga, wisata budaya dan tradisi pegunungan dan lainnya.

Potensi sumberdaya hasil erupsi gunungapi yang banyak digunakan dalam industri maupun sebagai bahan-bahan bangunan, antara lain :

Belerang

Belerang merupakan sublimasi gas vulkanik yang banyak digunakan dalam industri kosmetik, obat-obatan, bahan peledak, bahan korek api, dll.

Batuapung atau abu batuapung

Batuapung adalah hasil erupsi gunungapi yang eksplosif, umumnya dari magma bekomposisi asam, sehingga endapannya berwarna cerah. Apabila dilihat dengan mikroskop, batuapung ini terdiri atas serat-serat kaca dan lubang pori-pori dan gelembung udara akibat pelepasan gas pada saat dimuntahkan ke permukaan bumi, sehingga menjadi ringan dan dapat mengapung di permukaan air. Batuapung selama ini dijadikan bahan pembuatan batako, kemudian dikembangkan untuk memproduksi bermis (beton ringan pumis) dan bata atau balok dinding yang disebut pumrock.

Perlit dan Obsidian

Perlit dan obsidian adalah batuan vulkanik asam yang berkomposisi riolitik. Perlit mengandung larutan air 2-5% sedangkan obsdian di bawah 2%. Sifat perlit dan obsidian ini dicirikan dengan kemampuannya untuk mengembang dengan cepat apabila dipanaskan sampai pada titik lunaknya, sehingga berharga dan bermanfaat bagi pemadaman kebakaran karena sifat penghambat api, tidak berserat, lembam, tidak mengandung zat racun dan daya pengikatannya yang baik.

Kaolin

Kaolin merupakan endapan produk kegiatan gunungapi yang berumur Tersier atau Kuarter yang umumnya terbentuk akibat proses perubahan hidrotermal. Kaolin digunakan sebagai bahan industri keramik, bahan pengisi cat, kertas, kosmetik dan deterjen. Namun beberapa juga digunakan untuk pelapisan kertas.

Zeolit

Zeolit merupakan endapan abu vulkanik berumur Tersier seperti halnya bentonit melalui proses diagenetik atau felsfardiagenetik. Zeolit banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak, penjernih minyak sayur, penyerap limbah radiaktif (Sr35), agroindustri dan pembawa pupuk, pengolahan air dan pemeliharaan air, ornamen dll.

Bentonit

Bentonit adalah endapan abu vulkanik berumur Tersier yang berkomoposisi riolitik, terjadi akibat perubahan supergenesa, proses cuaca atau perubahan hidrotermal. Umumnya berkomposisi kalsium dari pada sodium. Bentonit sodium belum ditemukan endapannya yang bersifat komersil, sedangkan bentonit kalsium endapannya berlimpah dan banyak digunakan untuk penjernih minyak sayur, lumpur pemboran dan juga digunakan sebagai bahan palet, filler dan makanan unggas.

Diatomit

Diatomit terbentuk dari ganggang diatome yang bercampur dengan endapan batuan piroklastik, terutama abu erupsi gunungapi yang diendapkan di cekungan air tawar atau laut berumur Kuarter sepanjang jarus gunungapi atau jalur tektonik. Penggunaan diatomit sebagian besar untuk bahan pembantu filter. Sumber silika, abrasif dan pembawa.

Andesit

Andesit adalah batuan vulkanik berkomposisi menengah, terbentuk akibat leleran lava yang diendapkan pada lereng atau kaki gunungapi. Selama ini andesit digunakan sebagai bahan bangunan, seperti batu belah, split untuk campuran beton, pondasi jalur kereta api, ornamen atau bahan pembuat patung.

Endapan aliran piroklastik

Endapan aliran piroklastik di Indonesia sangat berlimpah, mengingat Indonesia adalah negara rangkaian gunungapi. Endapan ini merupakan hasil erupsi gunungapi yang eksplosif sehingga mengendapkan material yang dimuntahkannya cukup tebal. Pada saat diendapkan keadaannya masih panas dan mudah lepas sehingga setelah mendingin orang dengan mudah mengambil sirtu (pasir dan batu) untuk campuran bahan bangunan. Tetapi apabila endapan tersebut terdiri atas batuapung, pada saat diendapkan dalam keadaan panas, material tersebut terlaskan hingga memadat. Dalam keadaan padat digali untuk dibuat balok seperti bata yang disebut paras. Di Bali endapan ini dijadikan sebagai bahan pembuat candi atau patung.

Endapan lahar

Endapan lahar adalah endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diangkut dari puncak dan lereng gunungapi oleh hujan dan diendapkan di lembah. Endapan ini merupakan komoditi bahan galian yang menjanjikan berupa sirtu, pasirnya tercuci akibat transportasi air sehingga sangat baik untuk bahan campuran beton dan bahan bangunan lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar