Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

Banjir Tewaskan Tiga Warga

Banjir bandang di Jatim memakan korban.Tiga nyawa bahkan telah melayang,sementara luapan air dari hari ke hari terus meluas.

Tiga korban tewas itu adalah Sunarti,43,Desa Mayangrejo, Kec Padangan, dan Karsim, warga Desa Geger, Kec Kedungadem, Bojonegoro. Keduanya tewas setelah hanyut terseret luapan air bah Bengawan Solo. Satu korban tewas lain adalah Sri Mukayanah, 30,warga desa Putih,Kec Gampengrejo, Kab Kediri, yang jatuh ke sungai anak Sungai Brantas di dekat kawasan PT Gudang Garam. Jais, 40, warga Desa Mayangrejo menceritakan, Sunarti awalnya mencari kayu bakar di tepi sungai.Apes,karena terpeleset, tubuhnya seketika ditelan gulungan air.

”Arus yang sangat deras membuat kami yang hendak menolong tidak bisa berbuat apapun,” katanya kemarin. Jasad korban ditemukan sekitar pukul 12.30 WIB.”Korban sudah kita temukan dan langsung kita serahkan kepada keluarga,” tegas Kapolsek Kalitidu AKP Paiman. Nahas yang sama juga menimpa Karsim.Awalnya, dia diketahui berenang di salah satu anak Sungai Bengawan Solo. Tanpa terduga, arus besar dari sungai utama Bengawan Solo menerjang.

Dia pun terseret dan akhirnya ditemukan tewas. Pantauan di lapangan, air Sungai Bengawan Solo terus naik. Di papan duga yang berada di samping pasar Kota Bojonegoro, ketinggian air terus menanjak.Pada pukul 01.00 WIB dini hari, ketinggian mencapai 14.92 Phielscaal. Namun pada pukul 09.00 WIB, air sudah mencapai 15.02 Phielscaal dan setinggi 15.15 Phielscaal pada pukul 13.00 WIB.“Kami memperkirakan ketinggian air akan terus naik,” Ketua Satgas Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Pemkab Bojonegoro Pujiono kemarin.

Akibat melonjaknya air, ribuan rumah terendam air.Terutama rumah-rumah yang berada di bantaran sungai, seperti di Desa Ngablak,Kec Dander; Desa Ledok Wetan, Ledok Kulon,Kec Bojonegoro Kota; hingga Desa Kalirejo, Kec Kapas, air menggenang setinggi 50 cm hingga 1 meter. Meski demikian,warga belum banyakyangmengungsiseperti pada banjir Januari lalu. Dari laporan Tagana dan Satgas PBP, sejauh ini hanya 50 kepala keluarga (KK) warga Desa Kuncen dan Sidorejo, Kec Kalitidu, yang mengungsi di pendopo Kecamatan Kalitidu.

Sementara itu,warga korban lainnya masih bertahan di rumah.Satgas PBP juga sudah menyiagakan perahu karet untukmelakukan evakuasi jika dibutuhkan. “Saat ini, Kecamatan Kalitidu dan Kanor sudah minta karung sak untuk menahan air,”katanya. Kecamatan yang terendam air di antaranya, Kecamatan Margomulyo,Ngraho, Padangan, Kasiman, Purwosari, Kalitidu, Malo,Trucuk, Dander, Bojonegoro Kota, Kapas,Balen,Kanor,dan Baureno. Meski tidak seluruh wilayah terendam air, luapan sungai mengakibatkan aktivitas pendidikan terganggu.

Satgas PBP sendiri belum bisa menunjukkan data pasti, terkait sekolah yangdiliburkan. Penelusuran SINDO,salah satu sekolah yang terpaksa meliburkan proses belajar mengajar adalah Madrasah Tsanawiyah (Mts) Yayasan Pendidikan Hidayatul Atfal (YPIHA) di Desa Kalirejo, Kec Kapas.Sedikitnyaempat kelas terendam air setinggi 50 cm, sehingga terpaksa siswa diliburkan.“Air datang tadi malam.Karena air memenuhi sekolah, kami terpaksa meliburkan siswa,” kata Kepala Sekolah Rinjani.

Dia berharap banjir segera surut karena siswa MTs akan menggelar ujian semester pada 14 April mendatang, sehingga membutuhkan bimbingan belajar yang lebih. “Kalau genangannya lama, kami akan meminta pemerintah desa untuk meminjamkan balai desa untuk proses belajar mengajar siswa,”katanya. Warga yang menjadi korban banjir di kawasan Kota Bojonegoro sendiri, hingga kini masih belum mengungsi. Mereka hanya menyelamatkan barang-barang berharga dan ternak mereka ke pinggir jalan yang masih kering. Mereka yakin banjir tidak akan bertahan lama.“Semoga saja cepat surut,”kata Darmo.

0 komentar:

Poskan Komentar