Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

Helikopter TNI AU Meledak

HANCUR Kondisi helikopter jenis Bell 47-B Soloy yang hancur dan hangus terbakar. (kiri). Petugas dari Polres Subang dan TNI AU sedang mengidentifikasi bangkai helikopter yang jatuh di tengah perkebunan tebu Kampung Cilembang, Desa Manasari, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, kemarin.

SUBANG (SINDO) – Helikopter latih jenis Bell 47-B Soloy milik Skuadron 7 TNI AU Lanud Suryadharma Kalijati Subang,jatuh dan meledak sekitar pukul 11.15 WIB,kemarin.Body heli hancur berantakan.

Dalam peristiwa yang terjadi di Kampung Cilembang,Desa Wanasari,Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang tersebut,pilot Lettu (Pnb) Engky Saputra Jaya meninggal dunia dan teknisi Prajurit Dua (Prada) Ridi W mengalami luka bakar serius. Komandan Landasan Udara (Danlanud) Suryadharma Kalijati Subang Letkol Pnb Ras Rendro Bowo mengatakan, heli jenis Bell 47-B Soloy dengan nomor register H-4712 itu diterbangkan oleh Pilot Lettu (Pnb) Engky Saputra Jaya NRP 527020 dan seorang teknisi Prada Ridi dengan NRP 536325 dari Lanud Suryadharma Kalijati sekitar pukul 10.31 WIB.Kedua awak heli tersebut sedang melakukan latihan.

Menurut dia, heli terjatuh di lokasi yang berjarak sekitar 12 mil dari Lanud Surya Dharma Kalijati.”Mereka baru melaksanakan training profesiensi. Biasa dalam kegiatan satu latihan melakukan itu. Heli diawaki oleh Pilot Lettu Engky, dia meninggal. Sedangkan teknisi Prada Ridi, kami evakuasi ke rumah sakit,” kata Letkol (Pnb) Ras Rendro Bowo kepada wartawan seusai evakuasi bangkai heli nahas itu kemarin. Dia menjelaskan, pihaknya belum tahu penyebab pasti jatuhnya helikopter tersebut. Saat ini,Mabes TNI AU melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan itu. Namun, menurut Ras, sebelum terbakar, helinahastersebutsempat meledak dua kali.

” Dari keterangan warga, ada ledakan dua kali,tapi kepastiannya kami belum tahu dari mana.Saat kejadian itu, cuaca cerah, tidak ada masalah. Untuk kepastian penyebabnya sedang dalam penyelidikan oleh tim investigasi dari Mabes TNI AU,” tegas dia. Kendati demikian, lanjut Ras, kondisi heli yang diterbangkan oleh anggotanya itu telah berusia 30 tahun. Helikopter latih itu dibeli dari Amerika Serikat pada 1978.Kemudian dilakukan modifikasi pada 1984 di Australia.Usia yang cukup tua tersebut tidak menutup kemungkinan menjadi salah satu penyebab helikopter jatuh dan terbakar.

” Bisa dihitung kalo buatan tahun 1978, kirakira seperti apa,”imbuh Ras. Berdasarkan informasi yang dihimpun SINDO di lokasi kejadian,helikopter latih diperkirakan terbang dengan ketinggian rendah. Hal ini dibuktikan dengan putusnya kabel listrik sepanjang 1.300 meter yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi terbakarnya heli. Saat peristiwa itu, heli diperkirakan hendak menuju Lanud Suryadharma Kalijati Subang. Seorang saksi mata,Wasna, 45, petani setempat menuturkan, sebelum terjatuh dan terbakar di kebun tebu,heli sempat meledak dua kali.

Setelah mendengar ledakan,dia langsung menuju lokasi suara ledakan. Saat heli terbakar,posisi Wasna berjarak sekitar 100 meter dari lokasi.”Waktu heli jatuh, saya sedang di sawah.Nggaklama kemudian, terdengar suara ledakan.Saya langsung ke sana. Ternyata sudah terbakar,” ujar Wasna. Jatuhnya heli jenis Bell 47 B-Soloy ini menyedot perhatian ratusan warga setempat yang ingin melihat dari dekat. Kerumunan warga di lokasi jatuhnya heli mengakibatkan proses evakuasi sempat terganggu.

Untuk menjaga keamanan dan kelancaran proses evakuasi,puluhan petugas dari TNI AU bersenjata laras panjang melakukan penjagaan dari jarak 30 meter. Bangkai heli baru berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 WIB.Selanjutnya,bangkai heli tersebut dibawa ke Lanud Suryadharma Kalijati menggunakan kendaraan bak terbuka milik Lanud Suryadharma di bawah pengawalan Skuadron 7 Suryadharma. Komandan Sub Denpom Subang Kapten CPM Deddy Heryanto menyebutkan,kondisi tubuh korban Lettu (Pnb) Engky Saputra Jaya cukup mengenaskan.

Kedua kaki Engky, habis dilalap si jago merah. ” Saat kami tiba di lokasi, kondisi korban meninggal dengan kondisi dua kaki terbakar habis, hanya tinggal badannya saja.Sedangkan yang satunya lagi masih bisa diselamatkan dan langsung dilarikan ke RS PTPN VIII,”ujar Dan Sub Denpom Subang Kapten CPM Deddy Haryanto kepada SINDOdilokasikejadiankemarin. Dia memperkirakan,Prada Ridi berhasil menyelamatkan diri dengan cara melompat dari helikopter nahas itu.

Prada Ridi sempat dilarikan ke RS PTPN VIII Subang,tapi sekitar pukul 13.30 WIB dia dirujuk ke RS TNI AU Salamun, Jalan Ciumbulleuit,Kota Bandung. Penyebabnya, petugas RS PTPN VIII teknisi helikopter TNI AU nahas ini mengalami luka bakar tingkat II atau 45% tubuhnya terkena jilatan api. Sementara itu,dokter jaga RS TNI AU Salamun, dr Regi PA mengungkapkan,saat tiba sekitar pukul 14.45 WIB,kondisi korban stabil dan sadar. Korban langsung dirawat intensif di ruang intensive care unit (ICU). Dia optimistis,tim medis RS TNI AU Salamun mampu menyelamatkan korban. ” Sekujur tubuh korban, kecuali kepala dibalut perban.

Luka bakar paling parah terdapat di bagian tangan dan kaki.Kami masih mengobservasi korban sambil menunggui kedatangan dokter ahli bedah dr Dede Sukenda.Dalam waktu dekat korban akan menjalani bedah plastik,” ungkap Regi. Hingga kemarin sore, jenazah Engky Saputra Jaya masih disemayamkan di Hanggar 7, Lanud Suryadharma Kalijati Subang. Iriana, 23, istri Engky,meminta suaminya dimakamkan di Kota Malang, Jawa Timur.KorbanEngkymeninggalkan seorang istri dan satu anak yang masih berusia dua bulan. Kapolres Subang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sugiyono menegaskan pihaknya pun membantu penyelidikan dengan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

” Saksi yang diperiksa di antaranya warga sekitar,” kata Kapolres Sugiyono. Sedangkan Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsekal Pertama Chairuddin Ray mengungkapkan, kecelakaan pesawat heli milik TNI AU jenis Bell- 47B Soloy diduga akibat cuaca yang kurang baik.Untuk memastikan penyebab kecelakaan,Mabes TNI AU membentuk tim Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) ”Apakah akibat human error atau karena mesin pesawat, kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Tim itu akan melakukan pengumpulan data dan fakta di lapangan,”ujar Chairuddin. Disinggung usia heli yang cukup tua, Chairuddin Ray menambahkan, pesawat itu telah sesuai prosedur layak terbang sehingga boleh digunakan. ”TNI AU mengutamakan keselamatan guna menghindari kecelakaan,” tandas dia. Sementara Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Sumarjono mengingatkan jajarannya agar teliti memeriksa kondisi teknis alat utama sistem persenjataan (alutsista).

” Agar selalu dalam kondisi siap. Kami harus memahami secara tepat dan benar pengoperasiannya. Intensifkan latihan guna mempertajam kadar profesionalisme prajurit secara bertahap, bertingkat dan berlanjut,” tegas Sumarjono dalam amanatnya yang diterima SINDO,kemarin. PengamatMiliterMT Arifin berpendapat, sering terjadinya kecelakaan pesawat TNI, lebih disebabkan faktor pesawat telah berusia tua.Namun, dalam pengoperasiannya sebuah pesawat sering dipaksa menempuh jarak teritorial yang kurang diperhitungkan.

”Pesawat angkutan umum saja kalau sudah tua harus diperhitungkan, apalagi untuk pesawatTNI,” ujar Arifin. Dia melanjutkan, pemaksaan menggunakan pesawat berusia tua ini erat kaitannya dengan mekanisme anggaran yang tidak jelas dalam sistem pertahanan di negara ini. Secara umum,anggaran yang dialokasikan untuk pertahanan sangat tidak sesuai dengan teritorial yang harus dipertahankan. ”Teritorial negara kita itu sangat luas, tapi kenapa tidak ada rancangan yang memadai untuk anggaran pertahanan?” tanyanya.

Untuk meminimalisir kecelakaan itu, ujar Arifin, pemerintah harus membuat rancangan yang jelas dan menetapkan secara tepat prioritas pertahanan yang harus dipenuhi. Dengan begitu, jika anggaran tidak memadai,ada standar minimal yang terpenuhi. ” Harus jelas, prioritas pertahanan dalam 10 tahun ke depan.Kalau tidak,TNI hanya akan terus menerus menggunakan pesawat tua yang sangat rentan kecelakaan.Padahal, kalau itu untuk peralatan perang, harusnya yang masih fresh,” pungkas Arifin.
Untuk meminimalisir kecelakaan itu, ujar Arifin, pemerintah harus membuat rancangan yang jelas dan menetapkan secara tepat prioritas pertahanan yang harus dipenuhi. Dengan begitu, jika anggaran tidak memadai,ada standar minimal yang terpenuhi. ” Harus jelas, prioritas pertahanan dalam 10 tahun ke depan.Kalau tidak,TNI hanya akan terus menerus menggunakan pesawat tua yang sangat rentan kecelakaan.Padahal, kalau itu untuk peralatan perang, harusnya yang masih fresh,” pungkas Arifin.

Sumber : Koran Sindo

0 komentar:

Poskan Komentar