Tagana Indonesia

Sigap Tanggap Terdepan

More About Me...

TAGANA pada hakekatnya adalah wadah berhimpun seluruh kekuatan komponen penanggulangan bencana berbasis masyarakat khususnya dari unsur generasi muda. Kata-kata Taruna memiliki arti generasi muda, dan Kata Siaga memiliki arti segala upaya kesiapsiagaan dalam kondisi apa pun dan kata Bencana adalah tantangan dan masalah yang harus diselesaikan.

Another Tit-Bit...

Tujuan utama pemerintah untuk menyatukan visi, misi dan tindakan dalam penanggulangan bencana dengan menyatukan pada satu Korps yaitu Korps Penanggulangan Bencana Indonesia dengan nama Taruna Siaga Bencana atau TAGANA.

Banjir Bandung Raya Semakin Meluas

Image

ROBOH, Seorang warga RW 34 Kel Melong, Kec Cimahi Selatan, Kota Cimahi memandangi sebagian bangunan rumahnya yang roboh diterjang banjir luapan air Sungai Cikendal, kemarin. Warga berjalan di tengah Lumpur setinggi sekitar 10 cm.

BANDUNG(SINDO) – Hujan deras yang mengguyur Bandung Raya, kemarin, menyebabkan banjir meluas di sejumlah lokasi.Rumah yang rusak diterjang luapan air bertambah.

Sejumlah warga masih mengungsi. Puluhan rumah di Kampung Bojongjati RW 6 dan Kampung Bojongpulus RW 7, Desa Bojongloa, Kec Rancaekek, Kab Bandung, kembali terendam banjir, kemarin. Hujan yang mengguyur kawasan Kec Rancaekek sejak pukul 14.00–19.00 WIB kemarin mengakibatkan lintasan arus Sungai Cikeruh meluap yang akhirnya merendam rumah warga hingga setinggi satu meter.

Luapan Sungai Cikeruh yang berhulu di Kab Sumedang ini pun menggenangi Jalan Raya Rancaekek. ”Banjirnya hanya bersifat lintasan akibat Sungai Cikeruh meluap. Paling dalam waktu dua atau tiga jam juga surut lagi,” kata Camat Rancaekek Dadang Setiawan kepada SINDO, tadi malam.

Dadang menambahkan, air mulai meninggi sejak pukul 17.00 WIB di sepanjang Jalan Raya Rancaekek. Hasil pendataan sementara,lanjutnya,banjir diperkirakan merendam 50 rumah warga di kedua kampung tersebut. Dari pantauan SINDO, luapan Sungai Cikeruh menyebabkan Jalan Raya Rancaekek hingga pintu lintasan KA terendam air dengan ketinggian 50 cm atau sepaha orang dewasa.

Hingga pukul 19.00 WIB, kemacetan terjadi di sejumlah ruas jalan di kawasan tersebut akibat banyaknya kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, yang mogok terendam air. Air setinggi 50 cm juga merendam halaman Masjid Raya Rancaekek di Kampung Kaum, Desa Bojongloa, dan memacetkan arus lalu lintas di depannya. Bahkan, akses jalan menuju Kampung Bojongpulus terendam hingga 1–1,5 meter.

Menurut Yadi, warga Kampung Bojongpulus,RT 04/07, Desa Bojongloa, desanya memang merupakan daerah langganan banjir saat musim hujan tiba. Bila hujan susulan kembali terjadi, dipastikan ketinggian air bisa mencapai satu meter.

”Sudah kedua kalinya sejak musim hujan ini, rumah saya terendam sampai sepinggang. Tapi, keluarga saya tidak mau mengungsi karena airnya pasti cepat surut. Da ini mah cuma banjir lintasan. Kami harus sabar saja menunggu air surut antara tiga sampai empat jam,” kata Yadi.

Warga Mulai Terserang Penyakit

Sementara itu, hari kedua pascabanjir bandang di Kel Melong, Kec Cimahi Selatan, ratusan warga mulai terserang wabah penyakit. Banjir yang disebabkan robohnya dua tanggul Sungai Cikendal di RW 14 dan 34, Kamis (20/12) lalu, masih menyisakan genangan air setinggi lutut.

Data dari Sekretariat Bersama (Sekber) Kel Melong menyebutkan, kendati tidak ada korban jiwa, terdapat 61 korban banjir berobat ke Puskesmas Melong. Mereka menderita gatal-gatal, pilek, maag, batuk, dan panas dingin. Hingga sore kemarin, tercatat 800 rumah warga terendam dan 12 ambruk yang tersebar di lima RW, yakni RW 10,14,26,32,dan 34.Kondisi terparah dialami RW 34 dengan jumlah korban mencapai 665 kepala keluarga (KK).

Sebagian korban terpaksa mengungsi di beberapa masjid, pos pengamanan, dan mendirikan tenda di lokasi bencana. Sehari sebelumnya, air mencapai ketinggian 1–1,5 meter menggenangi perumahan.Peristiwa tersebut diakibatkan hujan lebat yang mengguyur Kota Cimahi sejak pukul 15.00 WIB.Warga pun mulai mendirikan lima posko bantuan dan satu dapur umum di lokasi banjir.Sejumlah bantuan dari Pemkot Cimahi, LSM, dan parpol mulai berdatangan.

Petugas Puskesmas Melong Cimahi Selatan Dedeh menyebutkan, stok obat-obatan bagi korban banjir bandang mulai menipis. Pasalnya, hingga kemarin, Dinkes Kota Cimahi belum menyuplai obat. Stok tersebut diperkirakan akan habis hari ini mengingat pasien korban banjir yang terus berdatangan. Diperkirakan 500 warga lagi yang akan berobat ke puskesmas.

Korban banjir bandang,Fahmi, 35, mengatakan, bantuan makanan, pakaian, dan obat-obatan banyak tidak sampai ke tangan warga. Korban banjir juga belum mendapat lokasi pengungsian yang layak. Akibatnya, warga terpaksa tidur di masjid-masjid,posko bantuan, dan dapur umum. Hingga kemarin, satu unit mobil pemadam kebakaran (damkar) Kota Cimahi masih berada di lokasi. Petugas kesulitan menyedot air di perumahan warga karena bercampur lumpur setebal 60 cm.

Beberapa warga mulai menembok kembali tanggul Sungai Cikendal yang roboh.Namun, aktivitas sempat terhenti saat hujan deras kembali mengguyur. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Tata Kota (Distakot) Kota Cimahi Boy Iman Nugraha menyebutkan, untuk penanggulangan sementara pihaknya membangun kembali tanggul roboh semipermanen.

Menurut Boy, banjir kali ini disebabkan penyempitan ruang Sungai Cikendal yang menghubungkan Kel Melong,Kota Cimahi dengan Kel Cijerah, Kec Bandung Kulon,Kota Bandung. Di tempat sama anggota DPRD Kota Cimahi Achmad Zulkarnain menyatakan, seharusnya Pemkot Cimahi tidak membangun tanggul yang hanya bersifat sementara.

Achmad juga mendesak agar Pemkot Cimahi bekerja sama dengan Pemkot Bandung dalam penanggulangan banjir ini. ”Kalau tanggul itu hanya sementara, bisa jadi jebol lagi. Pemkot bisa menggunakan dana tak terduga bagi penanggulangan bencana semaksimal mungkin dan bekerja sama dengan Pemkot Bandung,” tandas Achmad.

Kembali Disergap Cileuncang

Dari Kota Bandung, akibat hujan yang mengguyur wilayah Bandung dan sekitarnya sepanjang siang hingga sore kemarin, sejumlah ruas jalan kembali disergap banjir cileuncang. Banjir cileuncang terparah terjadi di Jalan AH Nasution (Ujungberung), tepatnya di depan SPBU Cikadut. Di ruas jalan tersebut, ketinggian air hampir mencapai 1,5 meter.

Akibatnya, kemacetan pun tak terhindarkan. Selain di jalan tersebut, banjir juga terjadi di Jalan Cileunyi, Surapati, Supratman,Arcamanik, Jakarta, dan Jalan Antapani.Tidak hanya genangan air, sampah-sampah berserakan di tengah jalan hingga menghambat laju kendaraan. Sejumlah pengemudi sepeda motor pun terpaksa menepikan kendaraannya karena khawatir terendam air.

”Wah, hujannya cukup deras mas. Saya terpaksa berhenti dulu di pinggir jalan karena khawatir mesin sepeda motornya mati. Sekarang, hampir setiap hari hujan turun deras.Udah gitu,kalau hujan pasti macet. Saya heran, kenapa setiap banjir, jalan-jalan di Bandung selalu digenangi air. Ujung-ujungnya pasti macet,” kata Nivo, 23, seorang pengendara motor yang terjebak hujan di Jalan Supratman.

Selain di wilayah Bandung Tengah, banjir cileuncang juga melanda sejumlah ruas jalan di Bandung Utara, di antaranya Jalan Setiabudi, Cihampelas, Cipaganti, dan Jalan Djundjunan (Pasteur). Meski air tidak terlalu tinggi, banjir membuat arus lalu lintas terhambat. Sementara itu, jumlah bangunan yang tergerus banjir bandang di RT 10/3 Kel Hegarmanah, Kec Cidadap, Kamis (20/12) lalu, bertambah menjadi tujuh bangunan. Ketujuh bangunan tersebut adalah rumah milik Warsoyo, Jajang, Suyatno, Joni Hermawan,Wawan, dan Enceh, serta bangunan GOR Panglayungan.

Selain itu, satu rumah milik Ade,juga rubuh diterjang banjir bandang. ”Sampai saat ini kami masih mendata jumlah rumah yang jebol tergerus banjir bandang. Bisa saja jumlahnya bertambah karena saya masih belum sempat berkeliling lagi ke lokasi lain.Beberapa warga, terutama yang rumahnya tergerus banjir, masih ada yang mengungsi di Masjid Asyi Syukrilah, tidak jauh dari lokasi banjir,” kata Ketua RT 10 Ook Suparman kepada wartawan, kemarin.

Ook menambahkan,90% warga sebetulnya sudah kembali ke rumah. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Pemkot Bandung untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal.Disinggung soal relokasi warga,Ook mengaku, masih belum memikirkan langkah tersebut.

Sumber : Seputar Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar